Indosat Indosat Indosat
Berita  

BPBD Catat 361 Bencana Terjadi di Jateng Sepanjang 2025, Banjir dan Longsor Masih Mendominasi

Waspada Cuaca Ekstrem BPBD
Indosat

BPBD Catat 361 Bencana Terjadi di Jateng Sepanjang 2025, Banjir dan Longsor Masih Mendominasi

Cerita Lubuk Linggau — BPBD Catat 361 Bencana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatatkan total 361 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Angka tersebut menandakan tingginya ancaman bencana alam yang terjadi di provinsi ini, dengan banjir dan longsor tetap menjadi dua jenis bencana yang paling sering terjadi dan mempengaruhi ribuan warga.

Menurut Kepala BPBD Jawa Tengah, Sudaryanto, jumlah bencana pada 2025 mengalami sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. “Dari 361 kejadian bencana yang tercatat, sebagian besar berasal dari bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor yang sering terjadi akibat curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang rawan longsor di beberapa daerah,” ujar Sudaryanto dalam konferensi pers yang digelar pada 2 Januari 2026.

Indosat

Penyebab Utama: Curah Hujan Tinggi dan Kondisi Geografis

Banjir dan longsor terjadi hampir setiap bulan di berbagai wilayah Jawa Tengah. Wilayah pegunungan dan dataran rendah di provinsi ini yang rawan banjir serta kondisi tanah yang labil di beberapa daerah menyebabkan kejadian-kejadian tersebut menjadi lebih sering. Dalam catatan BPBD, bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiel, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

“Curah hujan tinggi yang terjadi sepanjang 2025 sangat mempengaruhi terjadinya bencana ini, terutama di daerah yang sudah rentan terhadap longsor dan banjir. Kami juga melihat bahwa beberapa daerah mengalami kerusakan parah pada infrastruktur penting seperti jalan raya, jembatan, dan fasilitas umum lainnya,” kata Sudaryanto.

Selain itu, banyaknya perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia juga menjadi faktor pemicu terjadinya bencana alam yang semakin sering dan intens. Kejadian-kejadian seperti angin kencang, puting beliung, dan kekeringan juga tercatat meningkat di beberapa wilayah.BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025, Banjir dan Longsor  Mendominasi

Baca Juga: Bojan Hodak Harapkan Atmosfer GBLA untuk Kalahkan Ratchaburi FC

Distribusi Lokasi Bencana: Jawa Tengah Bagian Selatan Paling Terpengaruh

Dari 361 kejadian bencana yang tercatat, wilayah selatan Jawa Tengah menjadi yang paling sering terkena dampak. Di beberapa kota besar seperti Solo dan Semarang, banjir seringkali menggenangi jalan-jalan utama, mempengaruhi aktivitas masyarakat, dan menyebabkan kemacetan parah.

BPBD Jawa Tengah juga melaporkan bahwa kejadian banjir bandang kerap kali menyertai longsor, menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada wilayah yang terisolasi.

Tindak Lanjut dan Penanganan Darurat

BPBD Jawa Tengah, bersama dengan pemerintah daerah dan relawan, sudah bekerja keras dalam menangani dampak dari bencana-bencana tersebut.

Setelah bencana terjadi, BPBD bersama instansi terkait juga langsung melakukan penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Setelah terjadi bencana, kami selalu turun langsung ke lapangan untuk memberikan bantuan, baik itu makanan, obat-obatan, maupun alat pemulihan. Kami juga mengedukasi warga untuk mengurangi risiko bencana dengan melakukan pembangunan rumah yang aman serta penataan drainase yang lebih baik,” jelas Sudaryanto.

BPBD Catat 361 Bencana Anggaran dan Sumber Daya untuk Penanggulangan Bencana

Kami juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain, seperti BNPB dan palang merah, dalam memberikan bantuan kepada warga yang terdampak,” tambah Sudaryanto.

Namun, meski ada upaya maksimal dari pemerintah daerah dan BPBD, banyak pihak yang merasa bahwa anggaran yang ada belum cukup untuk mengatasi skala besar bencana yang terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, perlu adanya pendekatan komprehensif yang melibatkan semua elemen masyarakat dan pemerintah pusat untuk menghadapi ancaman bencana alam yang semakin meningkat.

Harapan untuk Tahun 2026: Mitigasi dan Pengurangan Risiko

Melihat angka kejadian bencana yang cukup tinggi pada 2025, BPBD Jawa Tengah menegaskan pentingnya penerapan mitigasi bencana yang lebih efektif di tahun 2026.

“Untuk tahun 2026, kami akan fokus pada peningkatan mitigasi bencana, dengan memperbaiki sistem peringatan dini dan melibatkan lebih banyak relawan serta komunitas dalam penanggulangan bencana. Kami juga akan fokus pada pembangunan rumah tahan gempa dan pembangunan saluran drainase yang lebih baik,” ungkap Sudaryanto.

Pemerintah juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap peringatan cuaca dan kondisi alam yang ekstrem, serta untuk selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang guna mengurangi risiko dan dampak dari bencana yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

Kesimpulan: Perlunya Kolaborasi dalam Mitigasi Bencana

Jawa Tengah mengalami banyak bencana sepanjang 2025, dengan banjir dan longsor yang masih menjadi dominasi terbesar.  Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait akan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Masyarakat juga harus lebih proaktif dalam mengurangi risiko bencana, dengan memperhatikan peringatan dini dan melakukan langkah-langkah mitigasi di tingkat rumah tangga dan lingkungan sekitar.

Indosat